Staff Review

Kanazawa City: Where Traditions Advancing in Harmony with Technologies

Tanpa terasa perjalanan saya di prefektur Ishikawa sudah mau selesai nih readers. Di hari ketiga ini saya akan jalan-jalan ke kota utama dari prefektur ini, yaitu kota Kanazawa.

Kalau berbicara kota Kanazawa mungkin sudah lebih banyak yang pernah mendengar nama  ini. Kota Kanazawa merupakan salah satu kota besar di Jepang layaknya Tokyo atau Osaka. Kota ini terkenal dengan nuansa tradisional zaman Edo yang masih terawat hingga sekarang, hasil kerajinan tangannya, dan juga tempat wisata utama yang wajib dikunjungi saat ke Kanazawa yaitu Kenrokuen Garden.

Kanazawa sendiri sangat mudah dijangkau, tinggal naik kereta Shinkansen 2,5 jam langsung dari Tokyo atau naik kereta Limited Express kurang lebih 3 jam perjalanan apabila dari Osaka, kemudian turun di stasiun Kanazawa. Semua perjalanan kereta ini bisa dicover menggunakan JR Pass loh.

Stasiun Kanazawa

Dalamnya hampir seperti mall

Oleh-oleh di Jepang bentukannya memang lucu-lucu ya

Tsuzumi-mon Gate di depan stasiun, salah satu simbol dari kota Kanazawa

Tempat pertama yang dikunjungi tentunya adalah Taman Kenroku-en (terkenal dengan sebutan Kenrokuen Garden). Taman Kenroku-en  merupakan 1 dari 3 taman dengan penataan terindah di Jepang, terkenal juga dengan keindahannya untuk dilihat di segala musim. Setiap hari nya selalu ada pengunjung yang datang ke taman ini, baik turis maupun penduduk setempat. Taman Kenroku-en menjadi salah satu lokasi wajib saat musim semi untuk menikmati sakura, di musim panas kita bisa menikmati keindahan rumput hijau nya, lalu menikmati nuansa daun kemerahan di musim gugur, dan juga keindahan salju di musim dingin.

Feels relaxing

Air mancur tertua di Jepang

Setelah berjalan-jalan di taman ini, saya dan rombongan diajak untuk mengikuti upacara minum teh di salah satu rumah teh yang ada di dalam Taman Kenroku-en. Selain disajikan teh, kami juga mencoba wagashi, yaitu kue manis tradisional khas Jepang yang memang biasa dijadikan pendamping minum teh.

Istirahat sambil minum teh sembari menikmati pemandangan taman yang indah

Dari Taman Kenroku-en kita pindah ke Kastil Kanazawa. Terletak tepat di pusat kota dan berdampingan dengan Taman Kenroku-en, Kastil Kanazawa ini juga merupakan tempat yang wajib dikunjungi, terutama saat sakura bermekaran di musim semi.

Bagian samping bangunan Kanazawa Castle

Perlahan tapi pasti langit nya mulai mendung T-T

Untuk menikmati makan siang, kami menuju Pasar Omicho. Pasar Omicho ini adalah pasar ikan terbesar di Kanazawa dan sudah ada dari sejak zaman Edo. Salah satu jenis menu yang terkenal adalah menu nasi mangkok dengan topping sashimi seperti salmon, tuna, atau gurita. Tidak hanya makanan laut, di pasar ini juga menjual bunga, baju, peralatan dapur, dan pilihan-pilihan barang lainnya.

Pasar Omicho

Selesai mengisi perut, perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi Distrik Higashi Chaya. Chaya disini memiliki arti “rumah teh”, dan sesuai namanya, distrik ini merupakan lokasi rumah teh eksklusif dimana tamu akan menikmati teh sambil dihibur dengan menonton penampilan geisha. Terdapat 2 rumah teh utama di area ini dan keduanya terbuka untuk umum, biaya masuk sekitar JPY 500 – JPY 750 per orang.

Namun tidak harus juga masuk ke rumah teh ini untuk melihat geisha, kita bisa juga kok bertemu geisha yang sedang berjalan di area ini. Ditambah dengan jejeran bangunan zaman Edo nya yang masih terawat, nuansa tradisional memang benar-benar terasa di distrik ini.

Hiks beneran hujan, gak ada ketemu geisha deh T-T

Selain rumah teh, bangunan – bangunan di distrik ini banyak yang sudah dijadikan kafe-kafe dan juga toko-toko yang kebanyakan menjual oleh-oleh kerajinan khas Kanazawa, yaitu gold leaf. Kanazawa Gold Leaf adalah kesenian emas yang sudah melalui proses sedemikan rupa untuk akhirnya berbentuk lembaran emas tipis, saking tipisnya lembaran emas ini bahkan bisa hancur dengan mudah hanya dengan gesekan jari tangan kita.

Kami berkesempatan mencoba menghias sumpit dengan Gold Leaf ini, dan saya akui memang harus ekstra hati – hati untuk menangani bahan ini. Saat baru mencoba menggulung sumpit dengan lembarannya saja harus sangat pelan-pelan kalau mau hasilnya bagus & rapi, lebih sulit lagi saat mencoba mengukir motif di sumpit nya. Buat yang jago gambar hasilnya mungkin bisa lebih bagus lagi, saya sampai gak berani foto karena malu lihat hasil buatan saya yang abstrak hihihi…

Beneran gak segampang yang terlihat guys ^^; Credit pic : JNTO

Tidak hanya menghiasi barang – barang kesenian, Gold Leaf juga banyak dijadikan hiasan peralatan makan seperti sumpit, sendok, garpu, piring, pisau, bahkan sekarang kesenian ini juga dijadikan bahan produk kosmetik dan juga ornamen makanan, ya Gold Leaf ini pun bahkan dibuat ada yang bisa dimakan.

Salah satu toko yang menjual es krim dengan topping Gold Leaf

Pudding with cream topping and…… yup more Gold Leaf

Keberhasilan menjaga tradisi sembari mengembangkan keunikan seni tradisional nya ini telah mendapat pengakuan dunia, sangatlah pantas Kanazawa dinobatkan menjadi salah satu “City of Crafts and Folk Arts” oleh UNESCO.

Dengan berakhirnya perjalanan saya di Kanazawa maka berakhir juga rangkaian perjalanan saya menjelajahi prefektur Ishikawa. Mulai dari nuansa alam & pedesaan, merasakan berendam di onsen, menikmati budaya lokal, mencoba membuat kesenian tradisional, hingga kembali ke suasana perkotaan, semuanya bisa didapat di prefektur Ishikawa. Semoga pengalaman saya ini bisa memberikan ide baru untuk kunjungan tempat di Jepang. Sampai bertemu di cerita perjalanan selanjutnya!

Related post

  1. Terimakasih Wendy Tour, Perjalan…
  2. Bercengkrama dengan Kera di Jigo…
  3. Kenapa Orang Yang Bertato Dilara…
  4. Harajuku – Omotesando: sho…
  5. WISATA SHIODAWARA CLIFFS, BAGUS …
  6. ‘Doraemon The Movie: Nobit…
  7. Chusonji Kuil Budha di Iwate
  8. Oishi Park Pesona Alam Kawaguchi…

Promosi!

Best Seller !

Tokyo Disney Resort NIVERSAL STUDIO JAPAN JAPAN RAIL PASS Paket Tur Kanto Buffet wifi router rental suica card
PAGE TOP